Telemarketing semakin meresahkan

Awal cerita gara gara ditawari kartu kredit dari salah satu bank secara gratis saya pun menyanggupi saja. Agak lucu juga sistem perbankan sekarang, ketika kita mengajukan aplikasi kartu kredit selalu di tolak mentah-mentah tapi seketika kita tidak lagi butuh malah ditawari gratis.

Awalnya sering mengajukan permohonan kartu kredit karena untuk transaksi online sangat dimudahkan apalagi untuk verifikasi dan transaksi di paypal. Belanja pung semakin mudah dengan fitur cicilan ala kartu kredit, belum lagi banyak promo dan bonus yang di tawarkan.

Tentu dibalik kelebihan tidak pun dapat dihindari kelemahan dari kartu kredit ini, mulai dari ulah nakal penyebarluasan identitas pengguna kartu kredit oleh pihak yang tidak bertanggung jawab hingga diserbu oleh telemarketing yang agak mengganggu.

Privasi sebenarnya tidak hanya menjadi tanggungjawab pengguna tetapi juga pada bank penyedia kartu kredit tersebut. Penyebarluasan informasi pengguna kartu kredit menurut pihak bank merupakan ulah para oknum dan sampai saat ini menjadi momok bagi pengguna kartu kredit yang belum ada solusinya

Sejak memegang kartu kredit saya sering menjadi sasaran para telemarketing dari berbagai perusahaan, baik dari bank penyedia kartu kredit yang bersangkutan, dari perusahaan asuransi yang bekerja dengan bank hingga perusahaan entah berantah yang sama sekali tidak ada hubungannya sama sekali. Herannya mereka ini dapat informasi pemegang kartu kredit ini dari mana? Okelah kalau telemarketing yang menawarkan produk dari bank bersangkutan atau perusahaan rekanannya mungkin dengan mudah para telemarketing  tersebut mendapatkan informasi kita walaupun sebenarnya tidak etis sama sekali. Nah yang menjadi masalah yang sangat menggangu yaitu para telemarketing dari asuransi yang sama sekali tidak berkerjasama dengan bank penerbit kartu kredit atau asuransi independen lainnya (kebanyakan telemarketing memang dari asuransi) bisa dengan mudah mendapatkan akses informasi kita.

Bukan tidak tertarik atau tidak percaya dengan para telemarketing, sebagai sesama pencari nafkah kita tentunya menghargai usaha mereka akan tetapi sebaiknya mereka pun harus profesional dan menghargai keinginan atau kesediaan para calon konsumen, jadi jangan ada keterpaksaan dan jurus menjebak. Tau sendirikan kalau para telemarketing hanya butuh jawaban “iya” di telpon yang sudah direkam oleh mereka sudah cukup untuk membuat kita mau tidak mau menyetujui dan ikut produk yang ditawarkan oleh mereka.

Setiap kali di telpon oleh telemarketing selalu saya hindari dengan menolak secara sopan dan baik walaupun kata tidak itu tidak menyurutkan semangat 45 para penjual produk dan jasa lewat telepon ini. Tetapi sepandai-pandai kita menolak produknya lama-kelamaan terjebak juga, itulah yang menjadi kekesalan awal mula tulisan ini karena saya tertipu oleh sales telemarketing produk asuransi Sinarmas MSIG.

Singkat cerita pada sore hari pada tanggal 15 Agustus lalu saya di telpon oleh telemarketing, awalnya menanyakan keaktifan kartu kredit yang saya pegang, dengan singkat saya menjawab iya masih aktif dan masih digunakan, si penelpon ini langsung dengan jurusnya mulai beraksi dengan mengatakan bahwa kalau pembayarannya lancar akan kami usulkan untuk penambahan batas kreditnya, dalam benak saya owh… orang ini dari bank provider kartu kredit saya. Beliau tanpa basa basi langsung memandu nomor kartu kredit dengan menyebutkan 4 nomor awal kartu dan meminta saya meneruskan menyebut sisa nomor yang tertera di kartu kredit, karena awalnya sudah bertingkah seperti orang bank dan pada saat itu saya pun dalam keadaan sendu dan ngantuk di sore hari jadi dengan lancarnya saya memberikan kesemua nomor kartu kredit tersebut, lalu kunci pintu pun sudah di tangan beliau untuk menggasak uang di kartu kredit. Langkah berikutnya beliau mengatakan akan mengirimkan dua buah kartu yang satunya akan menjadi kartu kesehatan yang dapat digunakan dan berbagai manfaatnya serta kartu yang satu lagi berfungsi sebagai kartu kredit dan diskon belanja tetapi tidak dapat digunakan untuk tarik tunai saya hanya menjawab iya karena beliau mengatakan bahwa kartunya dikirim untuk dipelajari terlebih dahulu dan kita sendiri yang memutuskan untuk diaktifkan atau diabaikan saja. Yang langsung membuat saya sadar dari pembicaraan yang panjang lebar ini adalah ketika beliau menyebutkan kartu yang ditawarkan adalah kartu dari bank sinarmas… sedangkan bank provider saya sama sekali bukan dari bank
Tersebut ataupun bekerjasama dengan bank tersebut. Tetapi sadarnya sudah telat setelah semua data-data saya berikan walaupun ada beberapa yang saya samarkan (data yang saya berikan tidak sesuai). Setelah pembicaraan selesai saya langsung bergegas menelpon Costumer Service bank provider kartu kredit saya dan menjelaskan perihal telemarketing tersebut, si CS tersebut memeriksa apakah ada pemotongan yang dilakukan karena menurut si CS para tele marketing asuransi hanya butuh nama dan nomor kartu kredit maka mereka sudah bisa melakukan pendebetan di kartu kredit kita. Setelah di cek oleh si CS ternyata belum ada transaksi yang terjadi dan saya pun merasa lega, terus CS nya menawarkan apakah kartunya ingin di blokir dan sialnya saya jawab “tidak” tanpa terpikir bahwa bencananya bukan tidak terjadi hanya saja belum terjadi. Benar saja dengan perasaan tidak tenang saya menelpon kembali CS bank provider bank kartu kredit saya untuk recheck ulang perihal masalah telemarketing tersebut dan alhasil yang saya dapati adalah telah terjadi pendebetan oleh sales telemarketing tersebut (owh GOD, sial apa hari ini) si CS dengan persetujuan saya langsung bergegas memblokir kartu kredit tersebut untuk menjaga pendebetan berikutnya yang mungkin akan dilakukan dan CS nya menyarankan untuk menghubungi asuransi bersangkutan untuk mendapat informasi masalah ini.
Saya mencoba menghubungi kembali nomor telpon yang tadi gunakan oleh sales tersebut tetapi tidak pernah di jawab padahal nomornya aktif.
Saya pun menghubungi pihak asuransi Sinarmas setempat, tau sendiri bagaimana ribetnya berurusan dengan pihak asuransi… sampai sekarang setelah saya melayankan komplain belum ada tidaklanjut. Saya sangat sangat kecewa  dengan telemarketing dari asuransi Sinarmas MSIG tersebut karena sudah melakukan pendebetan ke kartu kredit saya tanpa ijin baik itu menyebut nominal dan persetujuan untuk mendebet, yang saya setujui pada saat di telpon yaitu untuk menerima kartu yang akan dikirimkan ke alamat dan bisa diabaikan saja kalau tidak cocok jadi tidak ada sama sekali persetujuan pendebetan, hal ini saya anggap aebagai penipuan dan pencurian.

Bagi teman-teman lain, saran saya bijaklah dalam memakai kartu kredit, jangan pernah memberikan nomor kartu kredit kita kepada siapapun walau kepada orang yang berlagak atau mengaku sebagai pihak bank karena ketahuilah bahwa orang bank penerbit kartu kredit yang menelpon tidak akan pernah bertanya tentang nomor kartu kredit kita karena mereka sudah punya data-data kita dan jangan sekali kali menjawab “iya” kepada para telemarketing jika masih ada keraguan atau tidak tertarik dengan produk yang ditawarkan, jangan ragu untuk bilang “Tidak” karena selayaknya kita calon konsumen mendapatkan kejelasan dan keleluasaan untuk menentukan pilihan terhadap produk yang ditawarkan.

Recent search terms:

  • asuransi telemarketing menanyakan no kartu kredit
  • cerita telemarketing sinarmas
  • kelebihan dan kekurangan telemarketing
  • kelemahan bank sinarmas
  • no kartu kredit telemarketing asuransi
  • telemarketing asuransi lewat kartu kredit
  • telemarketing mengganggu 2017
  • telemarketing sinarmas

Tinggalkan komentar